Editorial PPMIndonesia.com
Perubahan yang paling bertahan bukanlah perubahan yang dilakukan untuk masyarakat, tetapi perubahan yang ditemukan, dijalankan, dan dimiliki oleh masyarakat itu sendiri.
JAKARTA.PPMIndonesia.com – Di sebuah kampung, beberapa warga duduk melingkar di teras rumah.
Tidak ada podium.
Tidak ada spanduk besar.
Tidak ada meja panjang dengan susunan acara yang rumit.
Mereka hanya sedang membicarakan persoalan yang mereka hadapi setiap hari.
Saluran air yang tersumbat.
Sampah yang semakin banyak.
Harga hasil pertanian yang tidak menentu.
Anak-anak muda yang semakin jarang berkegiatan di kampung.
Satu orang mengusulkan sesuatu.
Yang lain menanggapi.
Ada yang setuju.
Ada yang berbeda pendapat.
Kemudian mereka mencoba mencari jalan keluar.
Boleh jadi dari luar pertemuan itu tampak sederhana.
Namun sesungguhnya, di dalam lingkaran kecil tersebut sedang terjadi sesuatu yang penting.
Masyarakat sedang mengambil kembali perannya sebagai subjek.
Mereka tidak sedang menunggu seseorang datang membawa jawaban.
Mereka sedang belajar memahami persoalan, mengambil keputusan, dan menentukan apa yang dapat mereka lakukan.
Di situlah perubahan yang sesungguhnya sering kali dimulai.
KETIKA MASYARAKAT HANYA MENJADI PENERIMA
Selama bertahun-tahun, pembangunan mengenal berbagai istilah yang terdengar sangat baik.
Bantuan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat.
Program masyarakat.
Pembangunan masyarakat.
Pelatihan masyarakat.
Semua itu memiliki tujuan yang baik.
Namun dalam praktiknya, ada satu persoalan yang perlu terus diperiksa:
Siapa yang menentukan?
Siapa yang menentukan masalah?
Siapa yang menentukan program?
Siapa yang menentukan cara pelaksanaannya?
Siapa yang menentukan keberhasilannya?
Dan siapa yang memiliki hasilnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena masyarakat dapat saja menjadi penerima sebuah program tanpa pernah benar-benar menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan.
Masyarakat hadir.
Mengikuti.
Menerima.
Kemudian program selesai.
Setelah itu, kehidupan kembali seperti semula.
Program mungkin berhasil mencapai target administratif.
Tetapi belum tentu menghasilkan perubahan dalam kemampuan masyarakat.
OBJEK MUDAH DIATUR, SUBJEK HARUS DIAJAK BERPIKIR
Masyarakat sebagai objek relatif mudah diperlakukan.
Program dirancang.
Anggaran disiapkan.
Kegiatan ditentukan.
Masyarakat tinggal mengikuti.
Namun masyarakat sebagai subjek adalah persoalan yang berbeda.
Mereka harus diajak berpikir.
Harus didengar.
Harus diberi ruang untuk berbeda pendapat.
Harus diberi kesempatan untuk mencoba.
Bahkan harus diberi ruang untuk mengalami kegagalan.
Sebab menjadi subjek berarti memiliki kehendak, pilihan, dan tanggung jawab.
Tidak semua usulan masyarakat akan benar.
Tidak semua percobaan akan berhasil.
Tidak semua keputusan akan menghasilkan sesuatu yang baik.
Tetapi justru melalui proses itulah masyarakat belajar.
Dan dari proses belajar itulah kemampuan tumbuh.
MASYARAKAT MEMILIKI PENGETAHUANNYA SENDIRI
Sering kali pengetahuan dianggap hanya berasal dari mereka yang memiliki pendidikan formal.
Ada ahli.
Ada konsultan.
Ada peneliti.
Ada tenaga profesional.
Semua tentu memiliki pengetahuan penting.
Tetapi masyarakat juga memiliki pengetahuan.
Seorang petani mengetahui tanahnya.
Nelayan mengetahui lautnya.
Pedagang mengetahui pelanggannya.
Perajin mengetahui bahannya.
Ibu rumah tangga mengetahui kebutuhan keluarganya.
Tokoh masyarakat mengetahui hubungan sosial di lingkungannya.
Anak muda mengetahui dunia digital yang sedang berkembang.
Pengetahuan tersebut mungkin tidak selalu tertulis dalam buku.
Namun ia lahir dari pengalaman.
Dari pengamatan.
Dari percobaan.
Dari kegagalan.
Dari keberhasilan yang berlangsung berulang-ulang.
Karena itu, pemberdayaan tidak seharusnya hanya membawa pengetahuan kepada masyarakat.
Pemberdayaan juga harus membuka ruang agar pengetahuan masyarakat diakui, dikembangkan, dan dipertemukan dengan pengetahuan dari luar.
DARI “MENGERJAKAN UNTUK” MENJADI “BEKERJA BERSAMA”
Ada perbedaan besar antara melakukan sesuatu untuk masyarakat dan melakukannya bersama masyarakat.
Ketika kita bekerja untuk masyarakat, kita cenderung merasa bertanggung jawab atas hasilnya.
Ketika kita bekerja bersama masyarakat, tanggung jawab dibangun bersama.
Perbedaannya mungkin tampak kecil.
Tetapi dampaknya besar.
Sebuah sumur yang dibangun oleh pihak luar mungkin menyelesaikan persoalan air.
Namun jika masyarakat ikut menentukan lokasi, ikut mengelola, ikut merawat, dan ikut membuat aturan pemanfaatannya, maka yang dibangun bukan hanya sumur.
Yang dibangun adalah kemampuan mengelola kebutuhan bersama.
Begitu pula dengan koperasi, kelompok usaha, sekolah masyarakat, komunitas lingkungan, maupun berbagai bentuk kelembagaan lainnya.
Yang penting bukan hanya apa yang dibangun.
Tetapi kemampuan apa yang tumbuh di dalam proses pembangunan itu.
PERUBAHAN DIMULAI KETIKA MASYARAKAT MERASA “INI MILIK KAMI”
Ada satu kata yang sering menentukan keberlanjutan sebuah perubahan:
memiliki.
Sebuah program dapat selesai ketika anggaran habis.
Tetapi sebuah gerakan akan terus berjalan ketika masyarakat merasa:
“Ini milik kami.”
Rasa memiliki tidak dapat dibeli.
Ia tumbuh dari keterlibatan.
Ketika masyarakat ikut menentukan.
Ikut bekerja.
Ikut mengambil risiko.
Ikut menikmati hasil.
Dan ikut bertanggung jawab ketika terjadi masalah.
Karena itu, partisipasi bukan sekadar kehadiran.
Seseorang yang hadir dalam rapat belum tentu berpartisipasi.
Partisipasi dimulai ketika seseorang merasa bahwa pendapatnya memiliki arti dan tindakannya memiliki konsekuensi.
RUANG UNTUK MENCOBA
Masyarakat tidak akan menjadi subjek apabila semua jawaban sudah ditentukan sejak awal.
Mereka membutuhkan ruang untuk mencoba.
Sebuah kelompok pemuda mungkin mencoba membuat usaha baru.
Sebuah kelompok tani mungkin mencoba teknologi pertanian.
Sebuah komunitas mencoba mengelola sampah.
Sebuah koperasi mencoba model pelayanan baru.
Tidak semuanya berhasil.
Tetapi kegagalan tidak harus berarti akhir.
Kegagalan dapat menjadi pengetahuan.
Masyarakat belajar apa yang tidak bekerja.
Kemudian memperbaikinya.
Mencoba lagi.
Di sinilah trial and error menjadi bagian dari proses pemberdayaan.
Masyarakat bukan mesin pelaksana program.
Masyarakat adalah laboratorium kehidupan.
Di sanalah gagasan diuji oleh kenyataan.
PRANATA MENJADI RUANG BELAJAR MASYARAKAT
Masyarakat membutuhkan ruang yang memungkinkan proses tersebut berlangsung.
Di sinilah pranata sosial memiliki peran penting.
Koperasi.
Kelompok tani.
Kelompok usaha.
Komunitas lingkungan.
Sanggar seni.
Kelompok pemuda.
Forum warga.
Lembaga pendidikan masyarakat.
Berbagai bentuk organisasi lokal.
Pranata bukan sekadar struktur organisasi.
Ia adalah ruang tempat masyarakat belajar hidup bersama.
Di dalamnya orang belajar memimpin.
Belajar mengikuti.
Belajar berdiskusi.
Belajar berbeda pendapat.
Belajar mengelola sumber daya.
Belajar menyelesaikan konflik.
Dan belajar bertanggung jawab.
Karena itu, memperkuat pranata berarti memperkuat kemampuan masyarakat untuk mengelola kehidupannya sendiri.
SUBJEK BUKAN BERARTI MENOLAK PIHAK LUAR
Menjadikan masyarakat sebagai subjek tidak berarti menutup pintu terhadap pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, organisasi masyarakat, atau berbagai pihak lainnya.
Justru sebaliknya.
Masyarakat yang menjadi subjek akan lebih mampu menentukan apa yang mereka perlukan dari pihak luar.
Mereka dapat mengatakan:
Kami membutuhkan pengetahuan.
Kami membutuhkan teknologi.
Kami membutuhkan akses pasar.
Kami membutuhkan pembiayaan.
Kami membutuhkan pendampingan.
Kami membutuhkan jaringan.
Tetapi masyarakat tetap menjadi pihak yang menentukan bagaimana semua sumber daya itu digunakan.
Dengan demikian, hubungan berubah.
Bukan lagi hubungan antara pemberi dan penerima.
Melainkan hubungan antara mitra yang bekerja bersama.
SWADAYA BUKAN BERARTI BERJALAN SENDIRI
Di dalam proses tersebut, swadaya menjadi penting.
Swadaya berarti masyarakat memulai dari apa yang mereka miliki.
Tenaga.
Waktu.
Pengetahuan.
Modal.
Jaringan.
Sumber daya lokal.
Mungkin jumlahnya kecil.
Tetapi ketika dikumpulkan, ia dapat menjadi kekuatan.
Namun swadaya tidak berarti menolak bantuan.
Bantuan dapat menjadi pengungkit.
Teknologi dapat mempercepat.
Pengetahuan dari luar dapat memperluas wawasan.
Modal dapat membuka peluang.
Yang harus dijaga adalah posisi masyarakat sebagai pemilik proses.
Bantuan boleh datang dari luar, tetapi kemampuan harus tumbuh dari dalam.
DARI PROGRAM MENUJU PROSES
Di sinilah kita perlu membedakan program dan proses.
Program memiliki awal dan akhir.
Ada jadwal.
Ada target.
Ada anggaran.
Ada indikator.
Sementara proses masyarakat jauh lebih panjang.
Ia tidak selalu mengikuti kalender proyek.
Kadang berjalan cepat.
Kadang lambat.
Kadang maju.
Kadang mundur.
Kadang berhasil.
Kadang gagal.
Tetapi proses itulah yang membentuk kemampuan.
Karena itu, keberhasilan pemberdayaan tidak cukup diukur dari apakah program telah selesai.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang tetap hidup setelah program selesai?
Apakah masyarakat masih mampu berkumpul?
Apakah kelembagaan masih berjalan?
Apakah pengetahuan masih digunakan?
Apakah usaha masih berkembang?
Apakah masyarakat masih mampu memecahkan masalah baru?
Jika iya, berarti yang dibangun bukan sekadar program.
Yang dibangun adalah proses perubahan.
KEBUDAYAAN DAN KEMAMPUAN UNTUK BERUBAH
Menjadikan masyarakat sebagai subjek juga berarti menghargai kebudayaannya.
Setiap masyarakat memiliki sejarah.
Memiliki pengalaman.
Memiliki nilai.
Memiliki cara sendiri dalam menyelesaikan persoalan.
Karena itu, perubahan tidak seharusnya datang sebagai sesuatu yang memutus seluruh masa lalu.
Perubahan yang sehat justru menemukan hubungan antara pengalaman lama dan kebutuhan baru.
Gotong royong dapat menemukan bentuk baru dalam koperasi.
Kearifan lokal dapat bertemu teknologi.
Kesenian tradisional dapat memasuki ruang digital.
Pengetahuan masyarakat dapat bertemu ilmu pengetahuan modern.
Dengan cara demikian, perubahan menjadi proses yang tumbuh dari dalam sejarah masyarakat sendiri.
KETIKA MASYARAKAT MENJADI PRODUSEN PERUBAHAN
Ada perbedaan antara masyarakat yang mengikuti perubahan dan masyarakat yang memproduksi perubahan.
Masyarakat yang mengikuti menunggu model.
Masyarakat yang memproduksi menciptakan model.
Masyarakat yang mengikuti mencari jawaban.
Masyarakat yang memproduksi mencoba menemukan jawaban.
Masyarakat yang mengikuti menjadi pengguna.
Masyarakat yang memproduksi menjadi pencipta.
Tentu tidak berarti masyarakat harus menolak pengetahuan dari luar.
Justru pengetahuan dari luar dapat menjadi bahan untuk memperkaya pengalaman.
Tetapi pada akhirnya masyarakat harus mampu mengolahnya menjadi sesuatu yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Di sinilah keberdayaan menemukan bentuknya.
PPM DAN MISI MEMBUKA RUANG
Dalam perjalanan PPM, gagasan peranserta memperoleh makna yang sangat penting.
PPM tidak harus selalu menjadi pihak yang paling depan.
Kadang PPM perlu berada di samping.
Kadang di belakang.
Kadang cukup membuka pintu.
Karena tugas gerakan pemberdayaan bukan mengambil alih kehidupan masyarakat.
Tugasnya adalah membuka ruang agar masyarakat mampu mengambil alih tanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
PPM dapat menjadi fasilitator.
Penghubung.
Pendamping.
Pengorganisasi.
Pembuka akses.
Pengembang kader.
Namun ukuran keberhasilannya justru terlihat ketika masyarakat semakin mampu berjalan tanpa harus selalu menunggu PPM.
Sebab tujuan akhir pemberdayaan bukan ketergantungan.
Tujuannya adalah kemandirian.
DARI SUBJEK MENJADI KEKUATAN SEJARAH
Ketika masyarakat mulai mampu menentukan persoalannya sendiri, mencari jawabannya sendiri, mengorganisasi sumber dayanya sendiri, dan membangun kerja sama dengan pihak lain, sesuatu yang lebih besar mulai terjadi.
Masyarakat tidak lagi sekadar menjadi penerima perubahan.
Mereka menjadi pelaku sejarah.
Perubahan tidak lagi hanya datang dari atas.
Ia mulai tumbuh dari bawah.
Dari rumah.
Dari kampung.
Dari kelompok.
Dari desa.
Dari koperasi.
Dari komunitas.
Dari berbagai ruang kehidupan tempat manusia bertemu dan bekerja bersama.
Dan ketika praktik-praktik kecil itu menyebar, saling belajar, dan kemudian melembaga, ia dapat menjadi kekuatan perubahan yang lebih luas.
KETIKA MASYARAKAT MENEMUKAN MASA DEPANNYA
Pada akhirnya, pertanyaan tentang pembangunan bukan hanya:
Apa yang telah kita berikan kepada masyarakat?
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apa yang telah tumbuh di dalam masyarakat?
Apakah keberaniannya bertambah?
Apakah pengetahuannya berkembang?
Apakah kelembagaannya semakin kuat?
Apakah kemampuan mengambil keputusan semakin matang?
Apakah masyarakat semakin mampu menyelesaikan persoalannya sendiri?
Dan apakah mereka memiliki keberanian untuk menentukan masa depannya?
Jika jawabannya ya, maka sebuah proses perubahan sedang berlangsung.
Sebab masyarakat yang berdaya bukan masyarakat yang tidak membutuhkan siapa pun.
Masyarakat yang berdaya adalah masyarakat yang mampu menentukan apa yang dibutuhkan, memilih dengan sadar, bekerja bersama, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Di situlah masyarakat menjadi subjek.
Bukan karena mereka tidak pernah dibantu.
Tetapi karena bantuan tidak lagi menggantikan kemampuan mereka.
Bukan karena mereka menolak pihak luar.
Tetapi karena mereka mampu membangun hubungan yang setara dengan pihak luar.
Bukan karena mereka selalu berhasil.
Tetapi karena mereka memiliki keberanian untuk belajar dari kegagalan.
Dan bukan karena mereka mampu berjalan sendirian.
Tetapi karena mereka mampu menentukan ke mana harus berjalan dan bersama siapa mereka membangun perjalanan itu.
Maka pembangunan masyarakat pada akhirnya bukanlah pekerjaan untuk membuat masyarakat mengikuti sebuah perubahan yang sudah dirancang.
Pembangunan adalah proses membuka ruang agar masyarakat mampu menemukan perubahan yang mereka perlukan, membangun cara untuk mewujudkannya, dan menjadikan perubahan itu sebagai milik mereka sendiri.
Dari sanalah lahir kemandirian.
Dari kemandirian tumbuh kekuatan sosial.
Dari kekuatan sosial lahir pranata.
Dan dari pranata yang hidup, perlahan-lahan tumbuh peradaban.
Ketika masyarakat menjadi subjek, perubahan tidak lagi sekadar terjadi kepada mereka. Perubahan tumbuh bersama mereka—dan akhirnya mereka sendirilah yang menentukan arah masa depannya. (ppmindonesia)





























