Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menafsirkan “Shallū ‘Alayhi” Secara Qur’ani

2
×

Menafsirkan “Shallū ‘Alayhi” Secara Qur’ani

Share this article

Kajian Syahida-Quran bil Quran| oleh: A Mohamed

 

Jakarta|PPMIndonesi.com– Ayat berikut termasuk yang paling sering dibaca dan dikutip dalam tradisi keislaman:

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ ۚ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh ketundukan.”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Frasa shallū ‘alayhi (bershalawatlah kepadanya) telah menjadi bagian dari praktik ibadah harian umat Islam. Namun, bagaimana Al-Qur’an sendiri menjelaskan makna kata shalawat? Apakah ia sekadar doa dan pujian lisan, atau mengandung dimensi yang lebih luas?

Melalui pendekatan Qur’an bil Qur’an (Syahida), kita mencoba memahami istilah ini dengan merujuk pada penggunaan kata yang sama di ayat-ayat lain.

Shalawat dalam Al-Qur’an: Makna yang Konsisten

Kata shalawat dalam QS 33:56 bukan satu-satunya penggunaan dalam Al-Qur’an. Allah berfirman:

هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيْكُمْ وَمَلَـٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ

“Dialah yang bershalawat atas kamu dan para malaikat-Nya, agar Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya.”
(QS. Al-Ahzab: 43)

Dan juga:

أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka itulah yang memperoleh shalawat dari Tuhan mereka dan rahmat.”
(QS. Al-Baqarah: 157)

Jika Allah “bershalawat” kepada orang beriman, tentu maknanya bukan membaca lafaz tertentu, melainkan memberikan rahmat, dukungan, dan bimbingan. Maka secara Qur’ani, shalawat mengandung makna penguatan, pemberian rahmat, dan dukungan aktif.

Dimensi Dukungan terhadap Rasul

Makna ini semakin jelas ketika Al-Qur’an menjelaskan bagaimana sikap orang beriman terhadap Nabi:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِهِۦ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَٱتَّبَعُوا۟ ٱلنُّورَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ مَعَهُۥٓ ۙ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya yang diturunkan bersamanya—mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Araf: 157)

Ayat ini merinci bentuk dukungan kepada Nabi: beriman, memuliakan, menolong, dan mengikuti wahyu. Dalam konteks ini, “shallū ‘alayhi” dapat dipahami sebagai seruan untuk menunjukkan loyalitas dan komitmen nyata terhadap risalah beliau.

Keterkaitan dengan Taslīm

Perintah dalam QS 33:56 tidak berhenti pada shalawat, tetapi dilanjutkan dengan “wa sallimū taslīman.” Maknanya dijelaskan dalam ayat lain:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan terhadap keputusanmu dan menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa: 65)

Taslīm di sini berarti penerimaan total tanpa keberatan. Dengan demikian, shalawat dan taslīm dalam QS 33:56 membentuk satu kesatuan: dukungan dan penerimaan penuh terhadap risalah Nabi.

Antara Tradisi dan Makna Qur’ani

Tradisi bershalawat adalah ekspresi cinta kepada Rasulullah. Namun pendekatan Qur’an bil Qur’an mengingatkan bahwa makna shalawat tidak berhenti pada pengucapan, melainkan terwujud dalam:

  • Kesetiaan pada ajaran Al-Qur’an
  • Pembelaan terhadap nilai-nilai kebenaran
  • Komitmen moral dalam kehidupan sehari-hari

Shalawat lisan menjadi indah ketika ia disertai shalawat dalam tindakan.

Menghidupkan “Shallū ‘Alayhi”

Menafsirkan “shallū ‘alayhi” secara Qur’ani membawa kita pada pemahaman yang lebih utuh: bershalawat berarti menghadirkan dukungan, loyalitas, dan komitmen terhadap misi kenabian.

Dalam dunia yang penuh tantangan nilai, shalawat bukan hanya lantunan, tetapi kesaksian iman—bahwa risalah Nabi tetap menjadi cahaya yang diikuti.

Dan di situlah perintah itu menemukan relevansinya sepanjang zaman. (a mohamed)

 

 

Example 120x600