JAKARTA|PPMIndonesia.com – Salah satu pertanyaan yang cukup sering muncul dalam diskusi tentang Al-Qur’an adalah: mengapa Allah kadang menggunakan kata “Aku”, tetapi pada ayat lain menggunakan kata “Kami”?
Sebagian orang yang belum memahami gaya bahasa Al-Qur’an mengira bahwa penggunaan kata “Kami” menunjukkan adanya lebih dari satu Tuhan. Bahkan, tidak sedikit pihak yang mencoba menjadikan hal ini sebagai alat untuk menggiring pemahaman tauhid ke arah yang keliru.
Padahal, jika Al-Qur’an dikaji dengan metode Quran bil Quran — yaitu memahami ayat dengan ayat lainnya — maka akan tampak sangat jelas bahwa penggunaan kata “Kami” sama sekali tidak menunjukkan pluralitas Tuhan, melainkan menunjukkan keagungan, kekuasaan, dan kebesaran Allah Yang Maha Esa.
Al-Qur’an justru merupakan kitab yang paling tegas dalam menolak konsep banyak tuhan.
Tauhid dalam Al-Qur’an Sangat Tegas
Allah berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas 112:1)
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.”
(QS. Thaha 20:14)
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Dia.”
(QS. Ali ‘Imran 3:18)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa inti ajaran Al-Qur’an adalah tauhid mutlak: Allah itu Esa, tunggal, dan tidak memiliki sekutu.
Karena itu, mustahil Al-Qur’an di satu sisi menegaskan keesaan Allah, namun di sisi lain mengajarkan adanya banyak Tuhan.
Mengapa Allah Menggunakan Kata “Kami”?
Dalam bahasa Arab, termasuk bahasa kerajaan dan sastra tinggi, dikenal penggunaan bentuk jamak untuk menunjukkan:
- keagungan,
- kebesaran,
- kewibawaan,
- kemuliaan.
Gaya bahasa ini dikenal sebagai: Pluralis Majestatis atau “jamak keagungan”.
Seorang raja sering berkata:
“Kami memutuskan…”
Padahal rajanya hanya satu.
Demikian pula dalam Al-Qur’an, Allah menggunakan kata “Kami” untuk menunjukkan kemahaagungan-Nya, bukan jumlah Tuhan.
“Kami” Digunakan Saat Menunjukkan Keagungan Kekuasaan Allah
Perhatikan ayat berikut:
وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْيدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ
“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.”
(QS. Adz-Dzariyat 51:47)Ayat ini berbicara tentang: penciptaan alam semesta, keluasan kosmos, kekuatan penciptaan Allah.
Karena tema ayat berkaitan dengan keagungan ciptaan dan kekuasaan Ilahi, maka digunakan bentuk “Kami”.
Namun menariknya, ketika Al-Qur’an berbicara tentang tauhid dan ibadah, Allah kembali menggunakan bentuk tunggal:
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا
“Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku.”
(QS. Thaha 20:14)
Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an sangat konsisten:
- konteks tauhid → bentuk tunggal,
- konteks keagungan kerajaan Ilahi → bisa menggunakan bentuk jamak.
“Kami” Tidak Pernah Berarti Banyak Tuhan
Jika kata “Kami” berarti banyak Tuhan, maka Al-Qur’an akan bertentangan dengan dirinya sendiri.
Padahal Al-Qur’an menegaskan:
لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
“Sekiranya pada langit dan bumi ada tuhan selain Allah, niscaya keduanya telah rusak.”
(QS. Al-Anbiya 21:22)
Ayat ini justru menolak keberadaan banyak tuhan.
Dengan demikian, memahami kata “Kami” sebagai banyak Tuhan adalah kesalahan memahami gaya bahasa Al-Qur’an.
Apakah “Kami” Berarti Allah Bersama Malaikat?
Sebagian orang beranggapan bahwa kata “Kami” berarti Allah berbicara bersama para malaikat. Pemahaman ini juga tidak tepat.
Mengapa?
Karena Al-Qur’an menegaskan bahwa: malaikat hanyalah makhluk, malaikat hanya menjalankan perintah, malaikat tidak memiliki kekuasaan ketuhanan.
Allah berfirman:
لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
“Mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan.”
(QS. At-Tahrim 66:6)
Selain itu, Allah tidak membutuhkan bantuan siapa pun dalam menciptakan atau mengatur alam.
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya hanyalah mengatakan: ‘Jadilah!’ maka jadilah ia.”
(QS. An-Nahl 16:40)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekuasaan Allah bersifat mutlak dan langsung.
Bahasa Manusia Tidak Mampu Menggambarkan Allah Secara Sempurna
Al-Qur’an juga mengingatkan:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ
“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.”
(QS. Az-Zumar 39:67)Pada hakikatnya: bahasa manusia terbatas, sementara Allah tidak terbatas.
Bahasa manusia hanya mengenal: aku, kami, dia, mereka.
Namun Allah melampaui: ruang, waktu, bentuk, dan seluruh kategori makhluk.
Karena itu, Al-Qur’an menggunakan berbagai gaya bahasa untuk mendekatkan pemahaman manusia terhadap kebesaran Allah, meskipun hakikat Allah tetap melampaui jangkauan bahasa manusia.
Keindahan Bahasa Al-Qur’an dalam Menjaga Tauhid
Yang menakjubkan, Al-Qur’an sangat teliti dalam memilih kata.
Ketika berbicara tentang: ibadah, tauhid, penghambaan,
Allah menggunakan bentuk tunggal.
Namun ketika berbicara tentang:
- penciptaan langit,
- kekuasaan kosmik,
- kerajaan Ilahi,
- keputusan agung,
digunakan bentuk “Kami”.
Ini menunjukkan kesempurnaan retorika Al-Qur’an sekaligus menjaga kemurnian tauhid.
Penutup
Penggunaan kata “Kami” dalam Al-Qur’an bukan berarti Tuhan banyak.
Sebaliknya, itu adalah bentuk bahasa keagungan yang menunjukkan: kebesaran Allah,
kemuliaan kerajaan-Nya,
- keluasan kekuasaan-Nya,
- dan keagungan tindakan-Nya.
Al-Qur’an dari awal hingga akhir tetap konsisten mengajarkan satu hal:
اللَّهُ أَحَدٌ
“Allah Maha Esa.”
Karena itu, memahami kata “Kami” tanpa memahami keseluruhan Al-Qur’an akan melahirkan kesimpulan yang keliru.
Kajian Quran bil Quran mengajarkan bahwa setiap ayat harus dipahami dalam kesatuan pesan tauhid Al-Qur’an secara utuh. (a mohammed)




























