Sunnatullah Kehancuran dalam Perspektif Al-Qur’an
Kajian Syahida: Al-Qur’an Bil Al-Qur’an
Oleh: Tim Kajian Syahida PPM Indonesia
Mukadimah: Mengapa Peradaban Besar Bisa Runtuh?
Sejarah manusia dipenuhi oleh kisah bangkit dan runtuhnya berbagai peradaban. Ada bangsa yang pernah menguasai wilayah luas, memiliki kekuatan militer yang besar, teknologi yang maju, serta kekayaan yang melimpah. Namun pada akhirnya mereka lenyap dari panggung sejarah.
Pertanyaannya, mengapa sebuah bangsa hancur?
Al-Qur’an memberikan jawaban yang berbeda dari sekadar analisis politik, ekonomi, atau militer. Al-Qur’an menunjukkan bahwa di balik kehancuran suatu kaum terdapat sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan manusia dan sejarah peradaban.
Allah berfirman:
قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
“Sungguh telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah (ketetapan Allah). Maka berjalanlah di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 137)
Ayat ini menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa bukanlah peristiwa acak, melainkan mengikuti pola yang berulang. Salah satu pola yang paling sering disebut Al-Qur’an adalah ketika kezaliman berubah dari perilaku individu menjadi budaya kolektif masyarakat
Al-Qur’an Mengaitkan Kehancuran dengan Kezaliman
Dalam banyak ayat, Allah menjelaskan bahwa penyebab utama kehancuran suatu kaum bukanlah kelemahan ekonomi atau kekurangan sumber daya, melainkan kezaliman yang merajalela.
Allah berfirman:
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا
“Dan negeri-negeri itu Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim.” (QS. Al-Kahfi [18]: 59)
Firman-Nya yang lain:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ
“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim selama penduduknya adalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
(QS. Hud [11]: 117)
Ayat ini mengandung pelajaran penting. Selama masih ada kekuatan perbaikan (ishlah) dalam masyarakat, kehancuran dapat ditangguhkan. Namun ketika kezaliman menjadi norma dan upaya perbaikan dilemahkan, masyarakat sedang bergerak menuju fase kehancuran.
Apa yang Dimaksud Kezaliman dalam Al-Qur’an?
Banyak orang memahami kezaliman hanya sebagai tindakan kekerasan. Padahal Al-Qur’an menggunakan istilah zhulm dalam makna yang jauh lebih luas.
Kezaliman mencakup:
- Menolak kebenaran setelah mengetahuinya.
- Menindas manusia lain.
- Korupsi dan pengkhianatan amanah.
- Kecurangan dalam perdagangan.
- Penyalahgunaan kekuasaan.
- Perusakan lingkungan.
- Diskriminasi dan penindasan kelompok lemah.
Karena itu Allah berfirman:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum [30]: 41)
Kerusakan sosial, ekonomi, politik, dan lingkungan bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan buah dari perilaku manusia yang menyimpang dari petunjuk Allah.
Ketika Kezaliman Menjadi Sistem
Al-Qur’an menunjukkan bahwa kehancuran tidak dimulai ketika individu berbuat salah, melainkan ketika kezaliman telah menjadi sistem yang diterima dan dipelihara bersama.
Lihatlah Fir’aun.
Allah berfirman:
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ
“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah serta menindas segolongan dari mereka.” (QS. Al-Qashash [28]: 4)
Fir’aun tidak bertindak sendirian. Ia didukung oleh elit politik, ekonomi, dan birokrasi yang menjaga sistem penindasan tetap berjalan.
Demikian pula kaum Madyan.
Allah mengingatkan mereka:
وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf [7]: 85)
Kecurangan ekonomi telah menjadi budaya masyarakat mereka. Ketika kezaliman telah menjadi sistem, maka dampaknya tidak lagi menimpa individu tertentu, tetapi seluruh masyarakat.
Bahaya Ketika Kezaliman Dinormalisasi
Salah satu tanda paling berbahaya adalah ketika masyarakat tidak lagi menganggap kezaliman sebagai masalah.
Korupsi dianggap wajar.
Manipulasi dianggap kecerdasan.
Ketidakjujuran dianggap strategi.
Penindasan dianggap kebijakan.
Pada kondisi seperti ini, hati nurani kolektif mulai mati.
Allah menggambarkan keadaan tersebut:
بَلْ طَبَعَ اللَّهُ عَلَيْهَا بِكُفْرِهِمْ
“Tetapi Allah telah mengunci hati mereka karena kekafirannya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 155)
Ketika hati telah tertutup, masyarakat kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah. Inilah fase yang sering mendahului kehancuran suatu peradaban.
Allah Memberi Kesempatan Sebelum Menghukum
Meskipun kezaliman telah meluas, Allah tetap memberikan kesempatan kepada manusia untuk berubah.
Allah berfirman:
وَمَا أَهْلَكْنَا مِنْ قَرْيَةٍ إِلَّا لَهَا مُنذِرُونَ
“Dan tidaklah Kami membinasakan suatu negeri melainkan telah ada pemberi-pemberi peringatan baginya.” (QS. Asy-Syu’ara [26]: 208)
Dalam ayat lain:
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
“Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’ [17]: 15)
Ini menunjukkan bahwa kehancuran tidak pernah datang tanpa peringatan. Allah selalu membuka pintu taubat dan perbaikan sebelum ketetapan-Nya berlaku.
Kemakmuran Bukan Selalu Tanda Keselamatan
Salah satu kesalahan terbesar manusia adalah menganggap kemajuan ekonomi sebagai bukti bahwa suatu bangsa berada di jalan yang benar.
Padahal Al-Qur’an mengingatkan:
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً
“Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami bukakan bagi mereka pintu-pintu segala kesenangan. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.” (QS. Al-An’am [6]: 44)
Kemakmuran tanpa keadilan bisa menjadi ujian yang menjerumuskan manusia kepada kesombongan dan kelalaian.
Sunnatullah yang Tidak Pernah Berubah
Setelah mengisahkan berbagai umat terdahulu, Al-Qur’an menegaskan:
فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
“Maka engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah Allah dan tidak pula menemukan penyimpangan padanya.” (QS. Fathir [35]: 43)
Artinya, hukum Allah yang menyebabkan kehancuran kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun, dan umat-umat lainnya tetap berlaku hingga hari ini.
Yang berubah hanyalah nama bangsa, bentuk pemerintahan, dan teknologi yang digunakan.
Sedangkan kezaliman tetap menghasilkan akibat yang sama.
Saatnya Bercermin
Kajian Syahida terhadap ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa kehancuran suatu bangsa tidak terjadi secara mendadak. Ia diawali oleh kezaliman yang dibiarkan, kemudian diterima, lalu menjadi budaya, dan akhirnya berubah menjadi sistem yang menguasai kehidupan masyarakat.
Karena itu Al-Qur’an tidak mengajak kita sekadar mengutuk umat-umat terdahulu, tetapi bercermin kepada diri sendiri.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (akal yang tajam).”
(QS. Ali ‘Imran [3]: 13)
Pertanyaan yang perlu direnungkan oleh setiap masyarakat bukanlah: “Mengapa kaum terdahulu dihancurkan?”
Melainkan:
“Apakah kezaliman yang menghancurkan mereka sedang tumbuh dan dinormalisasi di tengah kehidupan kita hari ini?” (syahida)





























