Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menemukan Makna Allah dan Rasul

7
×

Menemukan Makna Allah dan Rasul

Share this article

Kajian Syahida quran bil quran. Oleh: syahida

“Allah dan Rasul” — Mengapa Selalu Disebut Bersama?

JAKARTA.PPMIndonesia.com- Di dalam Al-Qur’an, ungkapan Allah dan Rasul muncul dalam berbagai konteks: ketaatan, perselisihan, pengambilan keputusan, pembagian urusan, hingga kehidupan sosial.

Salah satu ayat yang paling sering dikutip adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS An-Nisa [4]: 59)

Ayat tersebut menimbulkan pertanyaan penting:

Apakah “Allah dan Rasul” merupakan dua sumber otoritas yang berdiri sendiri?

Ataukah penyebutan keduanya menunjukkan hubungan tertentu antara Allah sebagai sumber wahyu dan Rasul sebagai pembawa risalah?

Untuk menjawabnya, Kajian Syahida tidak memulai dari pendapat manusia, tetapi dari Al-Qur’an itu sendiri.

AL-QUR’AN MEMBEDAKAN ANTARA ALLAH DAN RASUL, TETAPI TIDAK MEMISAHKAN RISALAH KEDUANYA

Al-Qur’an dengan jelas membedakan Allah dan Rasul.

Allah adalah Tuhan.

Rasul adalah manusia yang diutus.

Namun perbedaan kedudukan tersebut tidak berarti risalah Rasul berdiri terpisah dari Allah.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu bahwa sesungguhnya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” (QS Al-Kahf [18]: 110)

Perhatikan struktur ayat tersebut.

Rasul menyatakan:

“Aku hanyalah manusia seperti kamu.”

Tetapi ada sesuatu yang membedakannya:

“Aku menerima wahyu.”

Dengan demikian, keistimewaan Rasul dalam konteks kerasulan bukan karena beliau menjadi Tuhan atau sumber ketuhanan, melainkan karena beliau menerima dan menyampaikan wahyu Allah.

RASUL ADALAH UTUSAN, BUKAN SUMBER TUHAN

Kata rasul sendiri menunjukkan makna sebagai utusan.

Al-Qur’an berulang kali menggambarkan para rasul sebagai manusia yang membawa pesan Allah kepada kaumnya.

Allah berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka.” (QS Ibrahim [14]: 4)

Ayat ini memberikan gambaran yang sangat penting.

Rasul diutus.

Ada pihak yang mengutus.

Ada pesan yang dibawa.

Dan ada manusia yang menerima pesan tersebut.

Maka pusat risalah tetap berada pada Allah sebagai pihak yang mengutus.

TUGAS RASUL: MENYAMPAIKAN APA YANG DITURUNKAN ALLAH

Allah menjelaskan tugas Rasul Muhammad dengan sangat tegas:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.” (QS Al-Ma’idah [5]: 67)

Kata kuncinya adalah:

بَلِّغْ — balligh

“Sampaikanlah.”

Apa yang disampaikan?

مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ

“Apa yang diturunkan kepadamu.”

Dari sini terlihat hubungan yang sangat jelas:

Allah menurunkan → Rasul menerima → Rasul menyampaikan → manusia menerima risalah.

Karena itu, ketika Al-Qur’an memerintahkan ketaatan kepada Rasul, ketaatan tersebut berkaitan erat dengan kedudukan Rasul sebagai pembawa amanat Allah.

RASUL TIDAK BOLEH MENGADA-ADAKAN WAHYU

Al-Qur’an bahkan memberikan peringatan keras kepada Rasul apabila beliau mengada-adakan perkataan atas nama Allah.

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ ۝ لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ۝ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ

“Dan sekiranya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, pasti Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian Kami potong urat nadinya.”

(QS Al-Haqqah [69]: 44–46)

Ini merupakan penegasan yang sangat kuat.

Rasul tidak memiliki kebebasan untuk mengatasnamakan Allah dengan sesuatu yang tidak berasal dari-Nya.

Dengan demikian, otoritas kerasulan tidak boleh dipahami sebagai kewenangan tanpa batas untuk membuat wahyu atau mengubah pesan Allah.

Rasul adalah pembawa amanat wahyu.

RASUL SENDIRI DIPERINTAHKAN MENGIKUTI WAHYU

Al-Qur’an bahkan menjelaskan bahwa Rasul sendiri berada dalam posisi sebagai orang yang mengikuti wahyu.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ مِنْ رَبِّي

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku.”

(QS Al-A’raf [7]: 203)

Dan:

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”

(QS Al-Ahqaf [46]: 9)

Ayat-ayat ini penting untuk memahami struktur otoritas dalam Al-Qur’an.

Rasul ditaati karena beliau adalah Rasul.

Tetapi Rasul sendiri tunduk kepada Allah dan mengikuti wahyu.

Maka ketaatan kepada Rasul tidak dapat dilepaskan dari risalah Allah yang beliau bawa.

MENGAPA “TAAT KEPADA RASUL” DISEBUT SETELAH “TAAT KEPADA ALLAH”?

Perhatikan kembali QS An-Nisa ayat 59:

أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Taatilah Allah dan taatilah Rasul.”

Menariknya, kata أَطِيعُوا (taatilah) disebut sebelum Allah dan kembali disebut sebelum Rasul.

Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an memang memberikan perhatian khusus kepada ketaatan kepada Rasul.

Mengapa?

Ayat lain memberikan jawabannya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh dia telah menaati Allah.”

(QS An-Nisa [4]: 80)

Ayat ini tidak mengatakan bahwa Rasul adalah Allah.

Sebaliknya, ayat ini menjelaskan hubungan antara ketaatan kepada utusan dengan ketaatan kepada pihak yang mengutus.

Ketika seorang utusan menyampaikan pesan resmi dari pihak yang mengutusnya, menerima pesan tersebut berarti menerima amanat dari pihak yang mengutus.

Dalam konteks Al-Qur’an:

ketaatan kepada Rasul merupakan ketaatan kepada Allah karena Rasul membawa risalah Allah.

“ALLAH DAN RASUL” BUKAN DUA TUHAN

Al-Qur’an sangat tegas mengenai tauhid.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ ۝ اللَّهُ الصَّمَدُ ۝ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ۝ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”

(QS Al-Ikhlas [112]: 1–4)

Karena itu, ungkapan “Allah dan Rasul” sama sekali tidak berarti dua pihak yang sederajat dalam ketuhanan.

Allah adalah Tuhan.

Rasul adalah utusan.

Allah adalah sumber wahyu.

Rasul adalah penerima dan penyampai wahyu.

Allah mengutus.

Rasul diutus.

Pembedaan ini sangat penting agar penghormatan kepada Rasul tidak berubah menjadi pengultusan terhadap manusia.

KETIKA ALLAH DAN RASUL DISEBUT BERSAMA, KONTEKSNYA HARUS DIPERHATIKAN

Al-Qur’an menggunakan penyebutan “Allah dan Rasul” dalam berbagai konteks.

Misalnya:

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, sungguh dia memperoleh kemenangan yang besar.”

(QS Al-Ahzab [33]: 71)

Dan:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, mereka mempunyai pilihan lain tentang urusan mereka.”

(QS Al-Ahzab [33]: 36)

Dalam konteks ini, penyebutan Allah dan Rasul menunjukkan bahwa keputusan yang datang melalui Rasul sebagai utusan Allah harus dihormati oleh orang-orang beriman.

Namun ayat-ayat lain tetap menunjukkan bahwa Rasul berada di bawah wahyu Allah.

Karena itu, memahami satu ayat harus dilakukan bersama ayat-ayat lainnya.

Inilah prinsip Al-Qur’an bil Al-Qur’an.

KETIKA BERSELISIH, AL-QUR’AN MEMBERIKAN UKURAN

Kembali kepada persoalan utama.

Jika manusia berbeda pendapat, apa yang harus dilakukan?

Allah berfirman:

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Kemudian jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”

(QS An-Nisa [4]: 59)

Ayat ini tidak berhenti pada perintah kembali.

Allah juga menyebutkan hasilnya:

ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.”

Dengan pendekatan Al-Qur’an bil Al-Qur’an, ayat ini dapat dibaca bersama:

وَمَا اخْتَلَفْتُمْ فِيهِ مِنْ شَيْءٍ فَحُكْمُهُ إِلَى اللَّهِ

“Tentang apa pun yang kamu perselisihkan, keputusannya dikembalikan kepada Allah.”

(QS Asy-Syura [42]: 10)

Dua ayat ini saling menerangkan.

Perselisihan tidak diselesaikan dengan menjadikan pendapat manusia sebagai hakim terakhir.

Perselisihan dikembalikan kepada Allah.

LALU APA ARTINYA “KEMBALI KEPADA RASUL”?

Pertanyaan ini menjadi penting bagi generasi yang hidup jauh setelah masa Rasul.

Bagaimana manusia kembali kepada Rasul?

Al-Qur’an menjelaskan bahwa Rasul diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.

وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ

“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya dan kepada siapa saja yang sampai kepadanya.”

(QS Al-An’am [6]: 19)

Ayat ini sangat penting.

Rasul diperintahkan memberikan peringatan dengan Al-Qur’an.

Karena itu, ketika umat berbicara mengenai “kembali kepada Rasul”, harus terlebih dahulu dipahami risalah yang dibawa Rasul.

Jangan sampai nama Rasul digunakan untuk membenarkan sesuatu yang justru bertentangan dengan wahyu yang beliau bawa.

RASUL MEMBAWA AL-QUR’AN SEBAGAI PERINGATAN

Allah berfirman:

وَأَنْذِرْ بِهِ الَّذِينَ يَخَافُونَ أَنْ يُحْشَرُوا إِلَىٰ رَبِّهِمْ

“Dan berilah peringatan dengan Al-Qur’an itu kepada orang-orang yang takut akan dikumpulkan menghadap Tuhannya.”

(QS Al-An’am [6]: 51)

Sekali lagi, Al-Qur’an menjadi instrumen peringatan.

Rasul bukan hanya membawa identitas kenabian.

Beliau membawa risalah.

Karena itu, mengenal Rasul secara Qur’ani berarti mengenal pesan yang beliau bawa.

JANGAN MEMISAHKAN RASUL DARI RISALAHNYA

Al-Qur’an menggambarkan adanya manusia yang memuliakan rasul secara verbal tetapi menolak pesan yang dibawanya.

Karena itu, ukuran ketaatan bukan sekadar klaim cinta kepada Rasul.

Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.”

(QS Ali Imran [3]: 31)

Perhatikan kata yang digunakan:

فَاتَّبِعُونِي — maka ikutilah aku.

Mengikuti Rasul berarti mengikuti arah yang beliau bawa menuju Allah.

Dan ayat tersebut ditutup dengan:

وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tujuan akhirnya tetap Allah.

RISALAH RASUL BUKAN UNTUK MEMBANGUN KULTUS MANUSIA

Al-Qur’an menjaga umat agar tidak mengangkat Rasul menjadi sesuatu yang bukan kedudukannya.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Katakanlah: Sesungguhnya aku hanyalah manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu.”

(QS Al-Kahf [18]: 110)

Rasul adalah manusia.

Namun manusia yang menerima wahyu.

Maka dua sikap ekstrem harus dihindari:

Pertama, merendahkan Rasul sehingga risalahnya tidak ditaati.

Kedua, mengangkat Rasul melampaui batas kemanusiaannya sehingga kedudukannya disamakan dengan Allah.

Al-Qur’an menempatkan Rasul pada posisi yang benar:

manusia pilihan Allah, penerima wahyu, pembawa risalah, dan utusan-Nya.

AL-QUR’AN MEMPERLIHATKAN PUSAT RISALAH: ALLAH

Semakin banyak ayat dikumpulkan, semakin jelas pola hubungan tersebut.

Allah berfirman:

إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ ۝ فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ۝ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ

“Sesungguhnya Kamilah yang akan mengumpulkannya dan membacakannya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian sesungguhnya Kamilah yang akan menjelaskannya.”

(QS Al-Qiyamah [75]: 17–19)

Ayat ini memperlihatkan bahwa wahyu berada dalam pemeliharaan Allah.

Rasul menerima wahyu.

Rasul menyampaikannya.

Umat menerimanya.

Tetapi sumber dan penjaga wahyu tetap Allah.

KELUHAN RASUL: AL-QUR’AN DITINGGALKAN

Ada satu ayat yang seharusnya menjadi bahan introspeksi mendalam.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”

(QS Al-Furqan [25]: 30)

Ayat ini menarik.

Rasul tidak mengeluhkan bahwa umat tidak mengingat namanya.

Yang disebut adalah:

هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Al-Qur’an ini telah ditinggalkan.”

Karena itu, kecintaan kepada Rasul tidak semestinya dipisahkan dari kecintaan kepada risalah yang beliau sampaikan.

KAJIAN SYAHIDA: MEMBACA “ALLAH DAN RASUL” SECARA UTUH

Jika seluruh ayat tersebut dibaca secara silang, kita memperoleh gambaran yang lebih utuh.

Allah adalah sumber wahyu

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Aku hanyalah manusia seperti kamu, yang menerima wahyu.”

(QS Al-Kahf [18]: 110)

Rasul menerima dan menyampaikan wahyu

بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

“Sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu.”

(QS Al-Ma’idah [5]: 67)

Rasul mengikuti wahyu

إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ

“Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku.”

(QS Al-Ahqaf [46]: 9)

Rasul ditaati

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, maka sungguh dia telah menaati Allah.”

(QS An-Nisa [4]: 80)

Perselisihan dikembalikan kepada Allah dan Rasul

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”

(QS An-Nisa [4]: 59)

Ayat-ayat tersebut membentuk satu rangkaian makna.

APA MAKNA “ALLAH DAN RASUL” BAGI UMAT HARI INI?

Dari keseluruhan ayat, kita dapat menarik satu prinsip penting:

Allah adalah sumber kebenaran dan wahyu. Rasul adalah utusan yang membawa dan menyampaikan wahyu tersebut kepada manusia.

Karena itu, ketaatan kepada Rasul tidak berdiri sebagai bentuk penghambaan kepada manusia.

Ia merupakan ketaatan kepada Allah melalui risalah yang disampaikan oleh Rasul.

Begitu pula ketika manusia diminta kembali kepada Allah dan Rasul, perintah itu tidak boleh dipahami secara terpisah dari fungsi Rasul sebagai pembawa wahyu.

Inilah yang membuat Al-Qur’an menjadi pusat kajian.

REFLEKSI

Apakah Kita Mengikuti Rasul atau Hanya Mengikuti Nama Rasul?

Pertanyaan ini layak direnungkan.

Kita dapat mengaku mencintai Rasul.

Kita dapat memperbanyak penyebutan nama beliau.

Kita dapat memperdebatkan berbagai hal atas nama beliau.

Namun Al-Qur’an memberikan ukuran yang lebih mendasar:

Apakah kita mengikuti risalah yang beliau bawa?

Sebab Allah berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku.”

(QS Ali Imran [3]: 31)

Mengikuti Rasul berarti mengikuti jalan risalah yang membawa manusia kembali kepada Allah.

PENUTUP

Allah sebagai Tujuan, Rasul sebagai Utusan, Wahyu sebagai Petunjuk

Kajian Al-Qur’an bil Al-Qur’an membawa kita kepada satu pemahaman yang penting.

Allah dan Rasul bukan dua sumber ketuhanan yang sederajat.

Allah adalah Tuhan.

Rasul adalah utusan.

Allah menurunkan wahyu.

Rasul menerima dan menyampaikannya.

Allah adalah sumber risalah.

Rasul adalah pembawa risalah.

Karena itu, ketika Al-Qur’an memerintahkan:

فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”

(QS An-Nisa [4]: 59)

ayat tersebut harus dibaca bersama seluruh ayat yang menerangkan fungsi Rasul.

Rasul tidak datang untuk mengambil posisi Allah.

Rasul datang untuk mengantarkan manusia kepada Allah.

Rasul tidak menciptakan wahyu.

Rasul menerima dan menyampaikan wahyu.

Rasul tidak menjadi tujuan penghambaan.

Allah-lah tujuan penghambaan.

Maka memahami “Allah dan Rasul” secara Qur’ani berarti menempatkan keduanya sesuai kedudukan yang ditetapkan Al-Qur’an:

Allah sebagai sumber dan tujuan.
Rasul sebagai utusan dan pembawa risalah.
Al-Qur’an sebagai wahyu dan petunjuk yang disampaikan kepada manusia.

Dan mungkin di situlah persoalan mendasar umat hari ini.

Bukan kurangnya penyebutan tentang Allah dan Rasul, tetapi belum selalu tepatnya kita memahami hubungan antara Allah, Rasul, wahyu, dan manusia sebagaimana Al-Qur’an menjelaskannya.

Maka jalan pulang itu kembali kepada sumber yang sama:

اللَّهُ

Allah.

Dan melalui utusan yang Dia pilih:

الرَّسُولُ

Rasul.

Dengan risalah yang Dia turunkan:

الْقُرْآنُ

Al-Qur’an.

Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Kajian Syahida — Al-Qur’an Bil Al-Qur’an
PPMIndonesia.com | Rubrik Kajian Islam dan Pemikiran

Example 120x600