Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kaifa Takfuruna Billah: Teguran yang Menyadarkan Kita Akan Ketergantungan pada Allah

500
×

Kaifa Takfuruna Billah: Teguran yang Menyadarkan Kita Akan Ketergantungan pada Allah

Share this article

Punulis : husni fahro| Edditor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Ada sebuah pertanyaan dalam Al-Qur’an yang menusuk nurani dan mengguncang logika siapa pun yang masih mau merenung:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ ۝٢٨

 “Bagaimana mungkin kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu tadinya mati lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan?” (QS Al-Baqarah:28)

Pertanyaan ini berbentuk retoris, bukan untuk dijawab, melainkan untuk menyadarkan. Dalam bahasa Arabnya: kaifa takfuruna billahhttps://ppmindonesia.com/index.php/2025/07/07/kaifa-takfuruna-billah-teguran-yang-menyadarkan-kita-akan-ketergantungan-pada-allah/? — bagaimana mungkin kamu bisa kufur kepada Allah?

Manusia sering lupa bahwa hidup ini sepenuhnya bergantung pada rahmat dan kuasa Allah. Sadar atau tidak, setiap hela napas, setiap tegukan air, setiap biji yang tumbuh, semuanya bukan hasil dari kekuasaan kita, tetapi murni anugerah dari-Nya.

Allah menggugah kita melalui ayat lain:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍࣖ ۝٣٠

 “Katakanlah: Terangkanlah kepadaku jika sumber airmu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS Al-Mulk:30)

Air, salah satu unsur paling vital bagi kehidupan, pun berada di luar kuasa kita. Atau renungkan firman Allah dalam Surah Al-Waqi‘ah (56):63–65:

اَفَرَءَيْتُمْ مَّا تَحْرُثُوْنَۗ ۝٦٣ءَاَنْتُمْ تَزْرَعُوْنَهٗٓ اَمْ نَحْنُ الزّٰرِعُوْنَ ۝٦٤لَوْ نَشَاۤءُ لَجَعَلْنٰهُ حُطَامًا فَظَلْتُمْ تَفَكَّهُوْنَۙ ۝٦٥

 “Pernahkah kamu memperhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat, maka kamu akan tercengang heran.”

Begitu rapuhnya manusia, begitu total ketergantungannya kepada Allah, namun ironisnya, manusia masih sering membangkang.

Syekh Abul Hasan Ali Nadwi pernah menulis: “Kekufuran modern bukanlah karena manusia tidak menemukan tanda-tanda kebesaran Allah, tetapi karena manusia menutup mata dan enggan merenungkan tanda-tanda itu.”

Teguran kaifa takfuruna billah juga menjadi undangan untuk kembali kepada jalan yang benar — menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, seperti yang disebut dalam QS An-Nisa’ ayat 125:

وَمَنْ اَحْسَنُ دِيْنًا مِّمَّنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَّاتَّبَعَ مِلَّةَ اِبْرٰهِيْمَ حَنِيْفًاۗ… ۝١٢٥

 “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, berbuat baik, dan mengikuti millah Ibrahim yang lurus?”

Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar, menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan derajat tertinggi iman: tunduk sepenuhnya kepada Allah, berbuat baik kepada sesama, dan mengikuti jalan para nabi dengan penuh ketulusan. “Bagi mereka yang istiqamah pada jalan ini,” tulis Hamka, “akan datang ketenangan yang tak tergoyahkan, karena mereka berada dalam perlindungan Allah.”

Janji itu ditegaskan dalam QS Fussilat (41):30–31:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ ۝٣٠نَحْنُ اَوْلِيَاۤؤُكُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۚ… ۝٣١

 “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka para malaikat turun kepada mereka seraya berkata: ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu. Kami adalah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat.’”

Begitu indahnya balasan bagi orang yang menyadari ketergantungannya kepada Allah dan istiqamah dalam ketaatan. Sebaliknya, mereka yang ingkar justru memikul kerugian yang tak tertanggung.

Pertanyaan itu kembali menggema, setiap kita menatap langit, meneguk air, atau menyaksikan benih tumbuh di tanah: Kaifa takfuruna billah? Bagaimana mungkin kita kufur kepada Allah, sementara kita tidak pernah berhenti membutuhkan-Nya?

Sungguh, pertanyaan ini bukan hanya teguran, tetapi juga cahaya yang menuntun kita kembali kepada kesadaran: bahwa hidup, mati, dan seluruh pengharapan kita, hanyalah kepada Allah.(husn fahro)

* Husni Fahro; peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

Example 120x600