Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Janji Allah tentang Keberkahan Negeri Beriman: Realitas atau Keyakinan?

355
×

Janji Allah tentang Keberkahan Negeri Beriman: Realitas atau Keyakinan?

Share this article

Penulis: syahida | Editor; asyary

ppmindonesia.com. Jakarta, — Kajian Qur’an bil Qur’an yang dibawakan Husni Nasution di kanal Syahida menyoroti sebuah janji besar dalam Al-Qur’an: keberkahan bagi negeri yang beriman dan bertakwa.

Husni mengawali dengan membacakan firman Allah dalam QS Al-A’raf [7]:96:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَـٰتٍۢ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَـٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَـٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.”

Menurut Husni, ayat ini bukan sekadar janji spiritual, melainkan rumus sosial yang nyata. “Al-Qur’an memberi formula jelas: iman dan takwa adalah pintu keberkahan.

Jika dua hal ini dijalankan secara kolektif, keberkahan tidak hanya menjadi keyakinan, tapi juga realitas sosial-ekonomi,” ujarnya.

Kekuatan Rahmat Allah

Husni juga mengingatkan bahwa sumber keberkahan itu adalah rahmat Allah. Dalam QS Yusuf [12]:53, ditegaskan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan jahat, kecuali mereka yang dirahmati Allah:

إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Sesungguhnya jiwa itu benar-benar menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sungguh, Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

“Kalau rahmat Allah turun, nafsu jahat terkendali. Bila masyarakat bebas dari kecenderungan jahat, maka kejahatan hilang dari akar, dan keberkahan hadir dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Husni.

Dari Cinta Iman ke Kehidupan Bersih

Ia kemudian merujuk QS Al-Hujurat [49]:7 yang menjelaskan bahwa Allah menanamkan rasa cinta pada iman dan benci terhadap maksiat dalam hati orang beriman:

وَلَـٰكِنَّ ٱللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ ٱلْإِيمَـٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ ٱلْكُفْرَ وَٱلْفُسُوقَ وَٱلْعِصْيَانَ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلرَّٰشِدُونَ

“Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikannya indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan lurus.”

Menurut Husni, inilah modal besar pembangunan bangsa. “Kalau masyarakat membenci korupsi, fasik, dan maksiat, otomatis mereka akan meninggalkannya. Pada titik itu, penjara bisa kosong, KPK tak lagi sibuk, dan aparat hukum berkurang bebannya,” katanya.

Realitas atau Keyakinan?

Husni menegaskan, keberkahan negeri beriman bukan sekadar utopia. “Ini janji Allah. Persoalannya, apakah kita benar-benar percaya atau hanya mengaku percaya?” ujarnya.

Ia menutup dengan mengingatkan QS Yunus [10]:58:

قُلْ بِفَضْلِ ٱللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِۦ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا۟ ۖ هُوَ خَيْرٌۭ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

“Kalau bangsa ini mau menjadikan iman dan takwa sebagai fondasi, maka keberkahan akan menjadi kenyataan, bukan sekadar keyakinan,” tutup Husni.(syahida)

*Husni Nasution, seorang pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an asal Bogor. Alumni IAIN Sumatera Utara ini dikenal dengan gagasannya tentang Nasionalisme Religius dan kepeduliannya pada isu-isu solidaritas sosial.”
Example 120x600