Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Hasanah yang Terstruktur: Menggenggam Dunia dan Akhirat Sekaligus

465
×

Hasanah yang Terstruktur: Menggenggam Dunia dan Akhirat Sekaligus

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary|

ppmindonesia.com.Bogor– Doa yang sering kita panjatkan—”Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah“—bukan hanya merupakan permohonan kosong yang diajarkan Rasulullah.

Ia adalah peta hidup. QS. Al-A’raf ayat 156–157 menunjukkan bahwa Allah tidak hanya mencatat doa tersebut, tetapi juga langsung memberikan jawaban: bahwa kebaikan dunia dan akhirat adalah sesuatu yang terstruktur, bisa dicapai, dan ditetapkan bagi mereka yang memenuhi tiga syarat.

…رَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗ فَسَاَكْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَالَّذِيْنَ هُمْ بِاٰيٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ ۝١٥٦

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan kepada mereka yang bertakwa, menunaikan zakat, dan beriman kepada ayat-ayat-Ku.” (QS. Al-A’raf: 156)

Dalam kajian Syahida kali ini, Husni Nasution mengajak kita merenungi bahwa doa tersebut tidak boleh terlepas dari upaya konkret. 

“Tiga syarat itu bukan simbolik, tapi formula hidup. Takwa adalah fondasi, zakat sebagai tindakan sosial, dan keimanan sebagai komitmen terhadap risalah dan nilai-nilai yang dibawa Rasulullah,” ujarnya.

1.Takwa: Fondasi Hasanah

Orang bertakwa bukan hanya takut pada Tuhan secara emosional, tetapi sadar betul akan konsekuensi dari setiap langkah hidupnya. Menurut Ustaz Husni, takwa adalah kesadaran struktural yang menjadikan seseorang berpihak pada keadilan, kebenaran, dan tanggung jawab sosial.

“Takwa tidak selesai di sajadah. Ia harus menampak di pasar, kantor, jalan, dan ladang. Di situlah hasanah dunia dibangun,” tegasnya.

2.Zakat: Kecerdasan Sosial

Al-A’raf menyebut yu’tunaz zakata, yang artinya bukan sekadar menunaikan zakat secara ritual, tapi juga menumbuhkan kepedulian sosial yang cerdas. Zakat bukan sekadar hitung-hitungan materi, tetapi mekanisme untuk mendatangkan kecerdasan kolektif dalam membangun keadilan.

“Zakat adalah instrumen sosial untuk meretas ketimpangan dan membuka akses hidup layak bagi semua. Ia adalah kecerdasan sosial yang membumi,” terang Ustaz Husni.

3.Iman kepada Ayat-Ayat Allah

Pada ayat selanjutnya (QS. Al-A’raf: 157), dijelaskan bahwa orang yang beriman pada ayat-ayat Allah adalah mereka yang memuliakan Rasulullah, menolong perjuangannya, dan mengikuti cahaya (nur) yang diturunkan bersamanya.

Husni menegaskan, “Ayat-ayat Allah bukan sekadar yang dibaca dalam mushaf, tetapi juga petunjuk hidup yang harus ditransformasikan dalam bentuk gerakan sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Orang beriman adalah mereka yang menjadikan Islam sebagai sistem yang aktif membentuk peradaban.”

Hasanah yang Diraih, Bukan Ditunggu

Al-A’raf 156–157 menggeser paradigma kita dari “meminta” kepada “mengusahakan”. Hasanah dunia dan akhirat bukan hadiah tanpa syarat, melainkan amanah yang menuntut syarat konkret.

Husni menutup kajian dengan refleksi tajam, “Doa tidak boleh jadi pelarian, tapi panggilan untuk bergerak. Kalau sudah tahu syarat mendapatkan hasanah, mengulang doa tanpa gerakan adalah pengabaian terhadap jawaban Allah sendiri.”

Akhir Kata

Kajian ini mengingatkan kita semua bahwa keinginan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat tidak akan pernah menjadi kenyataan tanpa strategi hidup yang terstruktur. Takwa, zakat, dan iman bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri, tapi saling menopang dalam membentuk manusia paripurna yang layak mendapatkan fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah.(syahida)

*Husni Nasution, pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an asal Bogor. Alumni IAIN Sumatera Utara ini dikenal dengan gagasannya tentang Nasionalisme Religius dan kepeduliannya pada isu-isu solidaritas sosial.”

 

Example 120x600